Kairo, KP
Para relawan dan pekerja kemanusiaan yang bekerja untuk membantu warga Gaza kembali mendapat tantangan berat. Sebab, mulai Jumat (6/2) lusa Kementerian Luar Negeri Mesir akan menutup makbar Rafah atau gerbang perbatasan ke Gaza dari Mesir.
Penutupan makbar Rafah tersebut berlaku untuk semua arus manusia dan lalu-lintas barang. ’’Semua bantuan kemanusiaan atau pun relawan juga distop,’’ tutur Sekretaris II bidang Penerangan Sosial Budaya KBRI Mesir Danang Waskito kepada Jawa Pos.
Menurut Danang, hingga kemarin belum ada penjelasan resmi dari pemerintah Mesir soal mengapa mereka tiba-tiba menutup pintu makbar. Yang jelas, dengan penutupan ini, maka semua arus bantuan kemanusiaan, infrastruktur, dan manusia, semuanya harus melalui Kareem Abu Shalom dan El Auga –dua-duanya dari wilayah Israel.
Langkah Mesir ini jelas sulit dipahami. Sebab, satu-satunya pintu perbatasan Non-Israel ke Jalur Gaza adalah Rafah. Bila ditutup, maka satu-satunya jalan mencapai Jalur Gaza adalah melalui Israel. Tentu saja ini menyulitkan arus bantuan, karena mayoritas donasi berasal dari negara-negara muslim yang rata-rata tak mempunyai hubungan dengan Israel.
Ini juga tentunya menyulitkan sejumlah warga Indonesia yang hendak mengirim bantuan. Salah satunya adalah ACT (Aksi Cepat Tanggap). Tiga orang relawan ATC hingga kemarin masih tertahan di Mesir. Tentu saja, mengurus visa Israel selain tidak mudah (karena Israel curiga terhadap pemohon visa yang muslim), juga ada hambatan psikologis tertentu.
Apakah KBRI Mesir tidak akan melayangkan protes atas penutupan tersebut? Danang menggeleng. ’’Untuk saat ini, tidak. Kami masih menunggu brifing dulu. Baru setelah jelas apa alasannya, kami akan mengevaluasinya,’’ tandasnya.
Sebuah sumber di KBRI menyebutkan bahwa penutupan pintu makbar ini hanya berujung pada dua kemungkinan. Pertama, Israel bakal kembali melakukan agresinya. ’’Namun, agak kecil kemungkinannya. Israel masih wait and see, dan menyerang lagi bakal menjadi blunder,’’ tuturnya.
Kemungkinan kedua adalah Israel ingin memperketat blokade sekaligus mengawasi arus barang dan manusia yang masuk ke Jalur Gaza. ’’Kalau lewat Mesir, Israel agak repot mengawasinya. Buktinya, setelah mengizinkan 160 wartawan masuk ke Gaza, Mesir langsung diprotes Israel,’’ ucapnya.
Selain itu, yang dikhawatirkan Israel adalah Hamas kembali mendapatkan pasokan senjata dan logistik dari lalu lalangnya arus barang. Setelah nekat mengebom selama 22 hari untuk menghancurkan terowongan-terowongan yang dibuat Brigade Izzudin Al Qassam, sayap militer Hamas, Israel tak ingin Hamas tetap mendapat pasokan. ’’Singkat kata, Israel ingin Hamas betul-betul sekarat kehabisan logistik dan senjata. Meski harus mengorbankan rakyat Palestina sekalipun,’’ tambahnya.
Pada bagian lain, Mesir juga meminta semua relawan dan wartawan yang masuk ke Jalur Gaza via Mesir untuk kembali selambat-lambatnya pada 5 Februari besok. Lagi-lagi, KBRI tak mengetahui alasannya. ’’Itu merupakan taklimat (pengumuman) dari Kemlu. Dalam waktu dekat, kabarnya Kemlu Mesir mengundang semua perwakilan negara asing untuk membrifing terkait hal ini. Mungkin di situ akan dijelaskan,’’ tuturnya.
Danang mengatakan pihaknya sudah menginformasikan ke sejumlah LSM yang masuk, antara lain Mer-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia), untuk segera menarik relawannya keluar. ’’Sepertinya, setelah tanggal 5 Februari, tidak ada yang bisa keluar masuk dari Rafah. Khawatirnya, relawan-relawan itu terjebak di Gaza dan terjadi hal-hal yang tak diinginkan,’’ tuturnya.
Sepanjang krisis Gaza ini, tercatat ada 48 WNI yang masuk. Yakni, dari unsur relawan dan wartawan. Sebagian besar sudah keluar. Tapi, masih ada yang di dalam Gaza. Farid Abdul Mutholib, salah satu anggota presidium Mer-C mengatakan sudah mendengar kabar terkait hal tersebut. ’’Namun, kami kesulitan koordinasi dengan yang di dalam. SMS maupun telepon tak bisa menjangkau. Bagaimana kami bisa berkoordinasi?’’ katanya.
Tapi, Farid mengatakan pihaknya akan terus berusaha menghubungi koleganya. Hingga kemarin diperkirakan masih ada enam relawan Mer-C yang masih ada di Gaza, yakni empat orang dokter dan dua orang logistik. Selain itu, masih ada sejumlah relawan lainnya dari BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia). Pihak KBRI memperkirakan jumlah WNI yang masih ada di dalam sekitar 15 orang. ’’Secepatnya kami akan melakukan pendataan dan mencari cara berkoordinasi dengan yang di dalam,’’ ucapnya.
Rabu, 04 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar